Irdon 'Abdurrahman' Syahli Harahap

Click here to edit subtitle

Sedikit Tulisan

view:  full / summary

Jati Diri Berupa Lisan dan Tulisan

Posted by [email protected] on October 8, 2015 at 5:25 AM Comments comments (0)
Pernahkah terbayangkan jika suatu saat nanti ketika wafat, meninggalkan 'warisan' lisan dan tulisan yang sama sekali tidak bermanfaat ? Mengkritik seakan ahlinya, menghujat seakan lebih pintar, mengeluh dan berkeluh kesah seakan sudah melakukan yang terbaik dalam hidup ini. Sosial media seakan sebagai sarana curahan hati gratis untuk disampaikan kepada orang lain, entah ingin di komentari atau sekedar senang jika di 'like'... mari kita kembalikan kedalam diri masing-masing dan tidak perlu perdebatan untuk mengutarakan maksud serta tujuan yang sebenarnya. Jika kita meninggalkan 'warisan yang bermanfaat' seperti transfer ilmu, motivasi atau apapun yang mengarah kepada kebajikan, tentu akan menjadi lapang pahala yang akan mengalir terus menerus walau jasad sudah bersatu dengan tanah. Semuanya tergantung kepada kita, karena jati diri dapat dinilai dari lisan maupun tulisan kita ! Semoga bermanfaat.

Jangan Pernah Merasa Hebat

Posted by [email protected] on June 6, 2014 at 2:25 PM Comments comments (0)

Ujub adalah perasaan takjub terhadap diri sendiri hingga seolah-olah dirinyalah yang paling utama daripada orang lain. Salah seorang penyair bertutur dalam sebuah syair yang ditujukan kepada orang-orang yang terbelenggu penyakit ujub : 

"Hai orang yang sombong dalam keangkuhannya. Lihatlah tempat buang airmu, sebab kotoran itu selalu hina.

Sekiranya manusia merenungkan apa yang ada dalam perut mereka, niscaya tidak ada satupun orang yang akan menyombongkan dirinya, baik pemuda maupun orang tua.

Apakah ada anggota tubuh yang lebih dimuliakan selain kepala ? Namun demikian, empat macam kotoranlah yang keluar darinya : Hidung beringus, sementara telinga baunya tengik. Tahi mata berselemak, sementara dari mulut mengalir air liur.

Hai Bani Adam yang berasal dari tanah dan bakal dilahap tanah, tahanlah dirimu (dari kesombongan), karena engkau bakal menjadi santapan kelak".

Penyair ini mengingatkan pada asal muasal penciptaan manusia dan keadaan diri manusia serta kesudahan hidup manusia. Kita berasal dari setetes mani hina, selama hidup kesana kemari membawa kotoran dan akan berakhir menjadi bangkai yang kotor. 


Kesombongan bukanlah pada orang yang senang dengan keindahan. Akan tetapi, kesombongan adalah menentang agama Allah dan merendahkan hamba-hamba Allah .

Rasulullah SAW tatkala ditanya oleh ‘Abdullah bin ‘Umar : “Apakah sombong itu bila seseorang memiliki perhiasan yang dikenakannya?” Beliau menjawab : “Tidak.” “Apakah bila seseorang memiliki dua sandal yang bagus dengan tali sandalnya yang bagus?” “Tidak.” “Apakah bila seseorang memiliki binatang tunggangan (kendaraan) yang dikendarainya?” “Tidak.” “Apakah bila seseorang memiliki teman-teman yang biasa duduk bersamanya?” “Tidak.” “Wahai Rasulullah, lalu apakah kesombongan itu?” Kemudian Rasulullah SAW menjawab : “Meremehkan kebenaran dan merendahkan manusia”.   [HR. Ahmad]

Semoga bermanfaat..

 

Dohan... si anak Durhaka !

Posted by [email protected] on May 20, 2014 at 9:25 AM Comments comments (0)

Seorang Milyarder bernama Dohan memiliki usaha di bidang Konstruksi yang sangat maju pesat. Usaha yang telah dirintis selama 30 tahun lebih telah membangun berbagai bangunan pencakar langit dan berbagai perumahan di beberapa kota-kota besar di Indonesia.

Keseharian di dalam keluarga dimanjakan oleh berbagai fasilitas  dan financial yang sangat mumpuni, seakan rumah hanya sebagai sebagai tempat persinggahan tidur di malam hari. Setiap pagi seluruh isi keluarga sudah disibukkan oleh berbagai macam kegiatan. Rumah hanya diisi oleh 3 orang Asisten Rumah dan Oma (Ibunda Dohan) yang sudah tua renta dengan penyakit stroke yang sudah lama di deritanya. Keseharian Oma di atas kursi rodanya dibantu oleh Asisten Rumah. 

Rasa kangen dan ingin diperhatikan oleh anaknya, membuat Oma ingin sekali memperolehnya dari anak semata wayangnya tersebut, namun berulangkali Dohan merasa terganggu dan sering memaki dengan nada tinggi dan ketus dengan ucapan : "Sudah tua lumpuh dan suka merepotkan". Hati Oma tersayat dan sangat tersakiti oleh ucapan anak kandungnya yang menjadi kebanggaannya selama ini. Air mata seakan kering akibat sering mengalir deras dari mata redupnya. Oma merasakan sudah tidak memiliki arti lagi untuk hidup di dunia yang mengakibatkan kondisinya semakin hari semakin memburuk. 

Allah SWT berfirman : "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia".  [Qs. al-Isra : 23]. 


Seorang anak dikatakan telah durhaka kepada orang tuanya apabila :Sudah tidak patuh dan tidak berbuat baik kepada orang tua, Memutuskan tali hubungan yang terjalin antara orang tua dengan anaknya,Tidak menaati apa yang diperintahkan atau diminta oleh orang tua,Mencaci dan melaknat kedua orang tuanya,Malu mengakui orang tuanya dihadapan orang banyak karena keadaan kedua orang tua yang miskin, berpenampilan kampungan, tidak berilmu, cacat atau alasan lainnya, mengumpat orang tuanya di depan orang banyak dan menyebut-nyebut kekurangannya, menajamkan tatapan mata kepada orang tua ketika marah atau kesal, enggan berdiri untuk menghormati orang tua dan mencium tangannya, dll.Sebesar apa pun ibadah yang dilakukan oleh seorang anak, tidak akan mendatangkan manfaat baginya jika masih diiringi perbuatan durhaka kepada kedua orang tuanya. Karena Allah SWT menggantung semua ibadah itu sampai kedua orang tuanya ridha.

Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan minta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup dan Allah membenci padamu banyak bicara dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan)" [dari Mughirah bin Syu’bah ra, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim]

Oma pun menghembuskan nafasnya yang terakhir disaat Dohan sedang berlibur bersama keluarga ke luar negeri. Mendapat berita tersebut, Dohan bersama keluarga menyingkatkan liburan mereka untuk kembali ke Indonesia. Entah mengapa Dohan mulai merasakan hampa (kehilangan Ibunya) dan sangat berdosa akibat perbuatannya selama ini kepada Oma. Air mata penyesalan pun tergenang dalam matanya ketika teringat rintihan sakit Oma yang sering diacuhkan dan bahkan dihardik oleh Dohan.

Dohan mulai kehilangan figur seorang Ibu yang setiap hari biasa menyapa dirinya. Namun apa mau dikata bahwa penyesalan senantiasa hadir belakangan. Akibat perbuatan (durhaka) nya kepada Oma, Dohan mulai merasakan akibatnya di dunia. Rasulullah SAW bersabda : "Tidak ada dosa yang Allah cepatkan adzabnya kepada pelakunya di dunia ini dan Allah juga akan mengadzabnya di akhirat yang pertama adalah berlaku zhalim, kedua memutuskan silaturahmi" [dari Abi Bakrah, diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan Hakim]

Dalam hadits lain dikatakan : "Dua perbuatan dosa yang Allah cepatkan adzabnya (siksanya) di dunia yaitu berbuat zhalim dan al’uquq (durhaka kepdada orang tua)".  [dari Anas bin Malik ra diriwayatkan oleh Hakim]   

Setelah 2 tahun Oma wafat, Dohan mulai merasakan nyeri dan terasa sangat lemah pada kedua kakinya. Berbagai macam pengobatan yang dilakukan hingga ke luar negeri, tidak menunjukkan adanya suatu kemajuan. Segala aktifitas usaha terpaksa dilakukan Dohan di rumah, sedangkan anak dan istrinya tetap rutin dengan kesibukan mereka masing-masing di luar rumah, meninggalkan Dohan dengan penyakitnya.

Untuk berjalan Dohan harus menggunakan bantuan alat berjalan atau menggunakan kursi roda yang dulu pernah dipergunakan oleh Oma. Dohan sangat merasakan kesepian di rumah dan meminta tolong kepada anak-istrinya untuk mengurangi kegiatan mereka untuk memperhatikan dan melayaninya di rumah, namun 'kesadaran mereka' hanya bertahan 1 minggu saja, selanjutnya mereka kembali hanyut dalam kegiatannya.

Sudah lebih dari 5 tahun Dohan mengalami penderitaan tersebut. Usaha yang telah dirintis lebih dari 30 tahun yang menjadi kebanggaannya selama ini, lambat laun mulai mengalami penurunan. Banyak proyek yang harus ditolak karena kondisinya sudah tidak memungkinkan lagi untuk 'terjun langsung' ke lapangan. Orang kepercayaan Dohan telah meninggalkannya dan telah mendirikan Perusahaan sendiri melanjutkan proyek yang ditolak oleh Dohan. Kesehariannya kini hanya menangis dan merenungi nasib akibat perbuatannya kepada Oma.

Lihatlah... bagaimana seorang yang durhaka kepada orang tuanya hidupnya tidak menjadi berkah dan mengalami berbagai macam kesulitan. Kalaupun orang tersebut kaya maka kekayaannya tidak akan menjadikannya bahagia. 

Rasulullah SAW bersabda : "Ada tiga do’a yang dikabulkan oleh Allah SWT (yang tidak diragukan tentang do’a ini) : (1) do’a kedua orang tua terhadap anaknya, (2) do’a orang Musafir (=sedang dalam perjalanan), (3) do’a orang yang didzhalimi".  [dari Abu Hurairah ra, diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud  dan Tirmidzi] 

Keridhaan orang tua seharusnya didahulukan daripada keridhaan istri dan anak. Karena Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa anak yang durhaka akan diadzab di dunia dan di akhirat serta tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.

Allah SWT berfirman : "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang tuanya, Ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa, "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". [Qs. al-Ahqaf : 15]

Kondisi Dohan saat ini sangat memprihatinkan dan sangat membutuhkan bantuan orang lain dalam kesehariannya. Istri telah meninggalkannya dan anak masih terlalu sibuk dengan aktifitasnya sehari-hari. Kondisi keuangan mulai mengalami keterbatasan. 

Dohan telah pasrah akan sisa hidup dengan kesendiriannya...

Membantu Sesama

Posted by [email protected] on April 24, 2014 at 11:00 PM Comments comments (0)

Dari Al-Mundzir bin Jarir, dari ayahnya, ia berkata : Dahulu kami berada di sisi Rasulullah SAW pada permulaan siang, tiba-tiba datang sekelompok orang tanpa alas kaki, telanjang dan hanya memakai pakaian yang terbuat dari bulu atau mantel yang terbuka bagian depannya dan berselempang pedang. Kebanyakan mereka dari qabilah Mudlar, bahkan semuanya dari Mudlar. Maka berubahlah wajah Rasulullah SAW ketika melihat mereka itu karena sangat miskinnya. Kemudian Beliau masuk, lalu keluar dan menyuruh Bilal untuk menyerukan adzan dan iqamah. Kemudian beliau shalat (Dhuhur). Setelah itu Beliau berkhutbah : “Hai manusia, bertaqwalah kalian kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, …. hingga akhir ayat. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.


Qs. an-Nisaa’ : 1. Dan beliau juga membaca ayat yang ada dalam surat Al-Hasyr “Bertaqwalah kamu sekalian kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertaqwalah kepada Allah”. Qs. al-Hasyr : 18. (Hendaklah) seseorang menyedekahkan dari dinarnya, dari dirhamnya, dari pakaiannya, dari satu sha’ gandumnya, dari satu sha’ kurmanya hingga walaupun hanya separoh biji kurma”.

 

Lalu datanglah seorang laki-laki Anshar dengan membawa sedeqah satu kantong yang hampir-hampir tangannya tidak kuat membawanya, bahkan betul-betul tidak kuat. Perawi berkata : Kemudian orang-orang susul-menyusul mengikutinya hingga aku melihat dua tumpukan dari makanan dan pakaian, sehingga aku lihat wajah Rasulullah SAW berseri-seri, seolah-olah wajah beliau tersepuh emas. Kemudian Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa mempelopori perbuatan baik dalam Islam, maka dia akan mendapat pahala perbuatan itu dan pahala perbuatan orang yang mengikutinya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa mempelopori perbuatan buruk di dalam Islam, maka ia menanggung dosa perbuatannya itu dan dosa orang yang mengikutinya, tanpa berkurang sedikitpun dari dosa-dosa mereka".  [HR. Muslim]

Jalan Lurus

Posted by [email protected] on April 15, 2014 at 11:20 PM Comments comments (0)

Setiap harinya kita memohon kepada Allah SWT khususnyadidalam sholat untuk ditunjuki jalan yang lurus, yaitu jalan yang akan mengantarkan kita menuju surga dan kebahagiaan. Allah SWT telah menjelaskan tentang jalan tersebut di dalam al-Qur'an surah al Fatihah, yakni surah yang terbesar, yang diturunkan kepada Rasulullah SAW dan tidak pernah diturunkandalam Taurat dan Injil : “Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orangyang tersesat”.   [Qs. al-Fatihah : 7]

Allah SWT juga menegaskan bahwa tauhid dan ketaatan kepada-Nya inilah jalan yang lurus itu, bukan penyembahan dan ketaatan kepada syaitan, sebagimana dalam al-Qur'an Allah SWT berfirman : “Bukankah Aku telah berpesan kepada kalian, wahai keturunan Adam; Janganlah kalian menyembah syaitan.Sesungguhnya dia adalah musuh yang nyata bagi kalian. Dan sembahlah Aku. Inilahjalan yang lurus”.  [Qs. Yasin : 60-61]


Rasulullah SAW pernah suatu ketika membuat suatu garis lurus, kemudian Beliau mengatakan bahwa ini adalah jalan menuju Allah yang lurus. Kemudian Beliau membuat garis-garis yang lain di sisi garis yang lurus tersebut, kemudian beliau bersabda bahwa ini adalah jalan yang banyak dan pada setiap jalan ada syaitan yang mengajak manusia menuju jalan-jalan itu. Kemudian Rasulullah SAW membacakan firman Allah SWT : "Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertaqwa".  [Qs. al-An’am : 153]

Seorang muslim seharusnya mengenal dan mengetahui jalan yang lurus itu. Dan jalan yang lurus itu adalah Islam yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dengan wahyu Allah Al-Qur’anul Kariim, dan Sunnah Rasulullah SAW. Kebutuhan seorang hamba terhadap ilmu untuk mengetahui jalanyang lurus itu, lebih dari kebutuhan seorang hamba terhadap makan dan minum.

Ingatlah... Allah SWT telah menganugerahkan nikmat yang banyak kepada kita. Di antara nikmat itu, adalah nikmat hidayah, yakni mengikuti petunjukAllah SWT. Dan nikmat itu adalah Islam, yang dengannya Allah mengutusRasul-Nya. Allah menurunkan kitab-Nya yang terbaik. Allah menjadikan Islam sebagai agama yang diridhai-Nya di muka bumi ini dan Rasulullah SAW telah menyampaikan risalah Allah SWT dengan sempurna.

 

Menuai Pahala Dari Tetangga

Posted by [email protected] on April 14, 2014 at 9:10 PM Comments comments (0)

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang Ibu-Bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”.  [Qs. an-Nisa : 36]

 

Dalam ayat diatas, Allah SWT memerintahkan kita untuk tidak menyekutukan-Nya dan berbuat baik terhadap orang-orang yang berada disekitar kita termasuk kepada tetangga.

 


Tetangga adalah orang pertama yang mengetahui dan merasakan kebaikan juga gangguan kita. Karena itu, adab mulia bertetangga sangat ditekankan dalam syariat Islam. Hak dan kedudukan tetangga bagi seorang muslim sangatlah besar dan mulia. Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia muliakan tetangganya”.  [HR. Bukhari dan  Muslim]

 

Begitu pentingnya memuliakan tetangga, sampai-sampai Jibril mewasiatkan secara khusus tentang hal itu. Rasulullah SAW bersabda : "Jibril senantiasa mewasiatkanku untuk berbuat baik terhadap tetangga sehingga aku mengira tetangga juga akan mendapatkan harta waris'.'  [dari Aisyah ra diriwayatkan oleh Bukhari]

 

Dari Aisyah, dia berkata : "Wahai Rasulullah, saya memiliki dua tetangga, lalu manakah yang lebih aku beri hadiah terlebih dahulu ?'' Rasulullah SAW menjawab : "Yang lebih dekat dengan pintu rumahmu''.  [HR. Bukhari]

 

Jika seorang Muslim diuji dengan tetangga yang brengsek, hendaklah ia bersabar, karena kesabarannya akan menjadi penyebab pembebasan dirinya dan gangguan tetangganya. Seseorang datang kepada Rasulullah SAW mengeluhkan sikap tetangganya, kemudian Beliau bersabda kepadanya :

 

“Sabarlah !” Rasulullah SAW bersabda untuk kedua kalinya, ketiga kalinya, atau keempat kalinya kepada orang tersebut, “Buanglah barangmu di jalan”. Orang tersebut pun membuang barangnya di jalan. Akibatnya, orang yang berjalan melewatinya sambil berkata : “Apa yang terjadi denganmu?” Orang tersebut berkata : “Tetanggaku menyakitiku”. Orang-orang pun mengutuk tetangga yang dimaksud orang tersebut hingga kemudian tetangga tersebut datang kepada orang tersebut dan berkata kepadanya : “Kembalikan barangmu ke rumah, karena demi Allah, aku tidak akan mengulangi perbuatanku lagi”.  [HR. Ahmad]

 

Tak ada gading yang tak retak. Tiada manusia yang sempurna. Latar belakang yang berbeda menciptakan pribadi yang berbeda, tinggal bagaimana kita dapat meredam perbedaan yang ada, selama tidak melanggar rambu syariat.  

 

Mari menuai pahala dari tetangga kita...

Berbicara Baik atau Lebih Baik Diam

Posted by [email protected] on April 13, 2014 at 10:35 PM Comments comments (0)

Diam itu lebih baik daripada berbicara sia-sia bahkan mencela atau mencemooh. Terkadang kita menganggap sepele dan tidak berdampak apa-apa, namun di sisi Allah hal tersebut dapat menjadi perkara besar. Allah SWT berfirman : “Kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar”.  [Qs. an-Nur : 15].

Rasulullah SAW ketika berbicara dengan Mu’adz bin Jabal ra, bersabda : “Maukah kuberitahukan kepadamu tentang kunci semua perkara itu ?” Jawabku : “Iya, wahai Rasulullah”. Maka beliau memegang lidahnya dan bersabda : “Jagalah ini”. Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah kami dituntut (disiksa) karena apa yang kami katakan ?” Maka Beliau bersabda : “Celaka engkau. Adakah yang menjadikan orang menyungkurkan mukanya (atau ada yang meriwayatkan batang hidungnya) di dalam neraka selain ucapan lisan mereka ?”  [HR. Tirmidzi]

Menjaga lisan bisa dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan berkata baik atau kalau tidak mampu maka diam. Dengan demikian diam kedudukannya lebih rendah daripada berkata baik, namun masih lebih baik dibandingkan dengan berkata yang tidak baik.

Mari berpikir dulu sebelum berbicara. Siapa tahu karena lisan kita dapat menyebabkan diri kita terlempar ke neraka.

Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya seseorang berbicara dengan suatu kalimat yang dia anggap itu tidaklah mengapa, padahal dia akan dilemparkan di neraka sejauh 70 tahun perjalanan karenanya”.   [dari Abu Hurairah diriwayatkan oleh Tirmidzi]


Memberi Kemudahan

Posted by [email protected] on October 23, 2013 at 8:35 AM Comments comments (0)

"Berilah mereka kabar gembira dan janganlah menakut-nakuti, mudahkan urusan mereka jangan kamu persulit".   [HR. Muslim].

 

Miskin

Posted by [email protected] on October 21, 2013 at 12:05 AM Comments comments (0)

"Orang miskin itu bukanlah mereka yang berkeliling meminta-minta kepada orang lain agar diberikan sesuap dan dua suap makanan dan satu-dua butir kurma.” Para sahabat bertanya : “Ya Rasulullah, (kalau begitu) siapa yang dimaksud orang miskin itu?” Beliau menjawab : "Mereka ialah orang yang hidupnya tidak berkecukupan dan dia tidak mempunyai kepandaian untuk itu, lalu dia diberi shadaqah (zakat) dan mereka tidak mau meminta-minta sesuatu pun kepada orang lain”. [dari Abu Hurairah ra, diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud dan an-Nasâ`i]

Bila Telah Tiba Waktuku...

Posted by [email protected] on October 7, 2013 at 10:45 PM Comments comments (0)

Satu persatu orang-orang yang terdekatku telah meninggalkan dunia ini. Bermacam-macam peristiwa sakaratul maut yang mereka jalani, ada yang menjerit ketakutan dan ada yang manis dengan senyuman. Peristiwa-peristiwa tersebut membuat diriku semakin takut akan masih berkurangnya ibadah dan ketaqwaanku kepada Allah SWT, sedangkan ajal setiap saat akan menjemput.

Bila telah tiba waktuku… sudah siapkah aku menghadapinya ? Saat di mana aku dalam lubang yang sempit didudukkan untuk menjawab pertanyaan dari dua Malaikat yang datang kepadaku : Siapa Rabb-mu, apa agamamu dan siapa Nabimu ?

Cukupkah aku menjawabnya : Rabb-ku adalah Allah SWT ? Islam adalah Agamaku ? Nabiku Muhammad SAW ? Semudah itukah menghadapi fitnah qubur ? Rasanya tidak. Tidak akan semudah itu. Sebagaimana telah tertanamkan dalam jiwaku keyakinan akan adanya Allah SWT, bahwa tidaklah segala sesuatu itu ada dan terjadi dengan sendirinya serta tanpa maksud dan tujuan. Keyakinan akan kesempurnaan agama Islam yang disampaikan kepada manusia agar mereka memperoleh kemudahan dan kebahagiaan hidup di dunia, sebelum di akhirat kelak.


Kemuliaan akhlaq Rasulullah SAW, sifat amanahnya dan kejujurannya yang merupakan teladan terbaik bagi umat manusia dan sudah selayaknya diriku mengikuti Sunnah Rasulullah SAW.

Allah SWT telah menurunkan kitab-kitab-Nya dan mengutus para Rasul-Nya dan telah memperingatkan manusia dengan kematian, agar segera bertaubat sebelum ajal tiba. Dan Allah telah mewasiatkan untuk bertaqwa kepada-Nya dan jangan sampai wafat kecuali dalam keadaan bertaqwa.

Rasulullah SAW bersabda : “Sesunguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawa belum berada di kerongkongannya”. [dari Abi Abdurrahman bin Abdillah bin Umar bin Khathab diriwayatkan oleh Tirmidzi].

Kebaikan dan rahmat Allah telah dicurahkan, jalan dan rambu-rambu telah digariskan. Apa yang bermanfaat bagiku dan yang bermudharat bagiku telah Allah SWT jelaskan. Rasulullah SAW bersabda : “Seluruh umatku akan masuk ke dalam surga, kecuali yang enggan. Para shahabat bertanya: “Siapakah yang enggan wahai Rasulullah”. Beliau menjawab: “Barangsiapa yang mentaatiku, maka ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, maka dialah yang enggan”. [dari Abu Hurairah ra diriwayatkan oleh Bukhari]

Tidak boleh diri ini putus asa dari rahmat Allah, karena rahmat dan ampunan Allah lebih luas dari dosa-dosa ini, sebagaimana Allah SWT berfirman : Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian putus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [Qs. az-Zumar : 53]

Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang akan menerima taubat hamba-Nya sebesar apa pun dosanya. Dalam sebuah hadits Qudsi, Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT berfirman : “Wahai anak Adam selama engkau masih berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni engkau apa pun yang datang darimu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam walaupun dosa-dosamu mencapai batas langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, Aku akan ampuni engkau dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan sepenuh bumi dosa dan engkau tidak menyekutukan-Ku, maka Aku akan menemuimu dengan sepenuh itu pula ampunan”. [dari Anas bin Malik ra diriwayatkan Tirmidzi].

Rasulullah SAW pernah berpesan kepada Abdullah bin Umar ra, sambil memegang pundak iparnya ini, Rasulullah SAW bersabda : “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir)”. [HR. Bukhari]

Semua isi al-Qur’an dan Hadits sangat tepat mengenai dunia. Semakin aku menikmati dunia, semakin membuat diriku terbuai, angan-angan yang melambung untuk berusaha meraih predikat sukses, padahal sewaktu-waktu Allah SWT dapat mengangkat kenikmatan tersebut dan tidak ada bekal yang dibawa kecuali hanya berupa kain kafan. Dunia hanya mempermainkan pikiran dan tubuh sehingga hati menjadi lalai dan lengah untuk berdzikir kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW pernah melewati pasar sementara orang-orang ada di sekitar Beliau. Beliau melintasi bangkai seekor anak kambing yang kecil atau terputus telinganya (cacat). Beliau memegang telinga bangkai tersebut seraya bersabda : “Siapa di antara kalian yang suka memiliki anak kambing ini dengan membayar seharga satu dirham?” Mereka menjawab, “Kami tidak ingin memilikinya dengan harga semurah apapun. Apa yang dapat kami perbuat dengan bangkai ini ?” Rasulullah SAW kemudian bersabda : “Apakah kalian suka bangkai anak kambing ini menjadi milik kalian ?” “Demi Allah, seandainya pun anak kambing ini masih hidup, tetaplah ada cacat, kecil/terputus telinganya. Apa lagi ia telah menjadi seonggok bangkai”, jawab mereka. Beliau pun bersabda setelahnya : “Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada hinanya bangkai ini bagi kalian”. [dari Jabir bin Abdillah ra, diriwayatkan oleh Muslim]

Allah SWT saja menghinakan dunia, kenapa aku tenggelam dalam kesenangan dunia ? Rasulullah SAW bersabda : “Seandainya dunia punya nilai di sisi Allah walau hanya menyamai nilai sebelah sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir seteguk airpun”. [HR. at-Tirmidzi]

Aku sebagai seorang muslim seharusnya memiliki visi dan rencana untuk kehidupan yang lebih kekal abadi. Dunia hanyalah tempat penyeberangan, sedangkan Akhirat merupakan negeri keabadian yang keutamaannya tiada terbandingi dengan dunia. Rasulullah SAW bersabda : “Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan. Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat ?” [HR. Muslim]

Betapa kecilnya Dunia bila dibandingkan dengan Akhirat. Maka siapa lagi yang tertipu oleh dunia selain orang yang pandir, karena dunia takkan dapat menipu orang yang cerdas dan berakal.

Yaa Allah… Bila telah tiba waktuku… Allah telah memanggilku… ambilah aku dalam keadaan Khusnul Khotimah (baik di akhir) dan sempatkanlah aku mengucapkan kalimat "LA ILAHA ILLALLAH".

 


Rss_feed